Rabu, 17 Agustus 2016

Semut yang Bijaksana



Semut yang Bijaksana
Pagi ini cuaca cerah, matahari bersinar terang dan tidak terlalu terik. Sekawanan semut berlomba-lomba keluar dari sarang nya, seperti biasa mereka akan mencari makan. Uniknya, mereka tidak mencari sendiri-sendiri, namun bergerombol untuk bergotong royong mencari makanan. Seekor semut yang besar berjalan paling depan, ternyata Ia adalah komandan dari kawanan tersebut.
Mereka bernyanyi riang sepanjang perjalanan. Mereka menuruni pohon liar di hutan, kemudian menyusuri daun-daun kering yang gugur, dan melewati tanah-tanah lembab karena hujan semalam. Akhirnya mereka sampai pada jalan setapak yang biasa dilalui para manusia untuk berlalu lalang.
 Dari kejauhan terlihat dua anak laki-laki sedang duduk di atas bongkahan batu besar di tepi  jalan. Mereka terlihat sedang menikmati makanan ringan. Dari radius beberapa meter, komandan semut sudah bisa mencium aroma serpihan makanan ringan yang terjatuh ke atas tanah.
“Teman-teman, mari kita ke sana. Sepertinya ada makanan untuk hari ini.” Kata Komando semut memberikan isyarat kepada anak buahnya.
Anak buah nya merespon cepat dan mereka segera berjalan mendekati dua anak laki-laki tadi. Dari arah berlawanan, terlihat sekawanan semut lain yang juga sedang berjalan ke arah bongkahan batu itu, sepertinya mereka mempunyai tujuan yang sama.
Sesampainya di sana, dua kawanan semut sama sama menghentikan langkah sejenak.
“Ini adalah bagian kami, kami melihatnya terlebih dahulu.” Seru salah satu semut dari kawanan yang pertama.
“Tidak. Komandan kami melihat nya terlebih dahulu, makanan ini milik kami.” Seru semut dari kawanan yang kedua.
“Komandan kami yang memberitahu bahwa disini ada makanan, jadi ini makanan kami.” Seru semut yang lain dari kawanan pertama.
Untuk beberapa saat terjadilah adu kepemilikan antara kawanan pertama dan kawanan kedua.
“Bagaimana kalau makanan ini kita bagi dua?” Usul komandan semut pertama untuk meredakan perselisihan anak buah nya.
“Tidak bisa, ini semua milik kami komandan” Jawab salah satu anak buahnya.
“Iya benar” sahut yang lain ikut membenarkan.
Kawanan semut kedua tampak sedang berdiskusi, sementara kawanan semut pertama bersikeras bahwa makanan tersebut sepenuhnya milik mereka.
“Baiklah, kami setuju makanan itu dibagi menjadi dua bagian.” Ucap komandan semut kedua.
“Tapi bagian kami lah yang paling banyak.” Seru kawanan semut pertama.
“Benar, kami mendapatkan ¾ bagian dari makanan ini, dan kalian ¼ nya, bagaimana?” Seru semut semut dari kawanan pertama.
“Tidak, kami yang seharusnya mendapat ¾.” Sahut kawanan semut kedua.
“Sudah teman-teman. Supaya adil, bagaimana kalau kita membagi makanan tersebut sesuai dengan jumlah semut yang ada dalam tiap kelompok?” Usul komandan semut dari kawanan kedua.
“Saya setuju kawan, kelompok yang jumlah semutnya lebih banyak, berhak mendapatkan makanan yang lebih banyak pula, supaya semuanya mendapat bagian rata. Karena sejatinya, hakikat adil bukan terletak pada persamaan, akan tetapi tepat pada kebutuhan.” Jawab Komandan pertama.
Akhirnya semua semut pun setuju dengan usul komandan mereka. Semut pertama mendapatkan ¼ bagian karena jumlah mereka yang memang sedikit.
Mereka pun berkerja sama membelah makanan menjadi dua bagian sesuai kesepakatan, dan mereka pulang dengan riang karena berhasil membawa makanan pulang, dan mendapatkan pelajaran tentang arti adil yang sesungguhnya dari peristiwa tersebut.
Mereka bangga mempunyai pemimpin yang adil dan mampu menularkan sifat arif nya kepada anak buah nya.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersikap adil kepada sesama?  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar